Perlindungan terhadap anak dan bayi sudah harus dimulai sejak dini, salah satunya melalui imunisasi BCG, Hepatitis-B, Polio, DPT, dan Campak yang wajib diberikan kepada anak dan bayi.
Dalam pelaksanaannya, pemberian imunisasi terkadang memberikan efek samping, efek samping yang timbul setelah pemberian imunisasi disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Beberapa KIPI dari hasil imunisasi antara lain;
BCG (Bacille Calmate Guerin) untuk mencegah Tuberculosis
3 Minggu setelah penyuntikan, akan timbul luka pada tempat penyuntikan. Luka tersebut akan sembuh dalam 2-3 bulan dengan meninggalkan jaringan parut berdiameter 4-8 mm. Terbentuknya luka ini akan menandakan sudah pernah divaksinasi BCG dan vaksin berhasil. Vaksin BCG tidak menjamin 100% terlindung dari TBC, namun dapat terhindar dari TBC yang berat seperti TBC millier.
Pemberasan Kelenjar limfa di daerah leher atau ketiak. Tidak perlu pengobatan dan sangat jarang terjadi.
HEPATITIS-B
Pada umumnya terjadi reaksi local yang ringan dan sementara, seperti nyeri pada tempat suntikan. Kadang-kadang dapat terjadi demam selama 1-2 hari setelah penyuntikan.
DPT (Difteri Pertusis Tetanus)
Reaksi lokal pada tempat penyuntikan seperti kemerahan, nyeri dan bengkak;
Demam ringan;
Anak menjadi gelisah dan terus menangis sesudah disuntik;
Kejang demam, sangat jarang, namun dapat terjadi sehubungan dengan demam yang muncul;
Kejadian paling serius yang dapat terjadi adalah reaksi anafilaksis atau ensefalopati.
POLIO
Pada umumnya pemberian vaksin polio tidak memberikan dampak, namun pada sebagian kecil anak yang menerima vaksin polio dapat mengalami pusing, diare ringan dan nyeri otot.
CAMPAK
Demam terjadi 5-6 hari sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari, demam dapat mencapai 39,6oC;
Ruam/bercak merah pada tubuh, hal ini dapat timbul pada hari ke 7-10 setelah imunisasi dan berlangsung selama 2-4 hari.
Reaksi terberat yang dapat terjadi adalah gangguan pada fungsi saraf pusat. Hal ini timbul 30 hari setelah imunisasi. Reaksi seperti ini dapat terjadi, namun sangat jarang.
Bila anak mengalami demam sesudah imunisasi dan tidak turun dengan pemberian obat, segera periksa ke dokter. Selain itu, pada saat imunisasi ke dua ataupun selanjutnya, jangan lupa untuk memberitahukan dokter mengenai apa saja yang dialami anak setelah imunisasi yang pertama dulu
Sumber:
Irene Trisbiantara dr., Apa Saja Efek Samping Setelah Imunisasi. http://www.tanyadokteranda.com/, 14 Juli 2011
Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur. Dengan KMS ini ganguan pertumbuhan atau resiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat.
Sebenarnya KMS ini telah diberlakukan di Indonesia sejak tahun 1970-an. Dengan perkembangan ilmu dan teknologi KMS telah mengalami 3 kali perubahan. KMS pertama dikembangkan pada tahun 1974 dengan menggunakan rujukan Harvard. Pada tahun 1990 KMS revisi dengan menggunakan rujukan WHO-NCHS. Pada tahun 2008, KMS balita direvisi berdasarkan standar antropometri WHO 2005. KMS Bagi Balita merupakan kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.155/Menkes/Per/I/2010, maka KMS balita dibedakan antara KMS anak laki-laki dengan KMS anak perempuan. KMS untuk anak laki-laki berwarna dasar biru dan terdapat tulisan untuk laki-laki. Sedangkan KMS anak perempuan berwarna dasar merah muda dan terdapat tulisan untuk anak perempuan.
KMS terdiri dari 5 bagian utama, yaitu :
Kurva pertumbuhan anak usia 0-24 bulan.
Catatan pemberian vitamin A dan pemberian imunisasi bayi.
Kurva pertumbuhan anak usia 24-60 bulan
Informasi tentang ASI, penanganan diare, dan perkembangan anak sehat.
Identitas balita.
Fungsi KMS, yaitu:
Sebagai alat untuk memantau pertumbuhan anak. Pada KMS dicantumkan grafik pertumbuhan normal anak, yang dapat digunakan untuk menentukan seorang anak tumbuh normal atau mengalami gangguan pertumbuhan. Bila grafik berat badan anak mengikuti grafik pertumbuhan pada KMS, artinya anak tumbuh normal, kecil resiko anak mengalami gangguan pertumbuhan. Sebaliknya bila grafik berat badan tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan, anak kemungkinan beresiko mengalami gangguan pertumbuhan.
Sebagai catatan pelayanan kesehatan anak. Di dalam KMS dicatat riwayat pelayanan kesehatan dasar anak terutama berat badan anak, pemberian kapsul vitamin A, pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan dan imunisasi.
Sebagai alat edukasi. Di dalam KMS dicantumkan pesan-pesan dasar perawatan anak seperti pemberian makanan anak, perawatan anak bila diare
Kegunaan KMS, yaitu:
Untuk orang tua balita
Orang tua dapat mengetahui status pertumbuhan anaknya. Dianjurkan agar setiap bulan membawa balita ke Posyandu untuk ditimbang. Apabila ada indikasi gangguan pertumbuhan berat badan atau kelebihan gizi, orang tua balita dapat melakukan tindakan perbaikan, seperti memberikan makanan lebih banyak atau membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk berobat.
Orang tua balita juga dapat mengetahui apakah anaknya telah mendapat imunisasi tepat waktu dan lengkap dan mendapatkan kapsul vitamin A secara rutin sesuai dengan dosis yan dianjurkan.
Untuk Kader
KMS digunakan untuk mencatat berat badan anak dan pemberian kapsul vitamin A serta menilai hasil penimbangan. Bila berat badan tidak naik satu kali kader dapat memberikan penyuluhan tentang asuhan dan pemberian makanan anak. Bila tidak naik 2 kali atau berat badan berada di bawah garis merah kader perlu merujuk ke petugas kesehatan terdekat, agar anak mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
KMS juga digunakan oleh kader untuk memberikan pujian kepada ibu bila berat badan anaknya naik serta mengingatkan ibu untuk menimbangkan anaknya di posyandu pada bulan berikutny
Untuk Petugas Kesehatan
Petugas dapat menggunakan KMS untuk mengetahui jenis pelayanan kesehatan yang telah diterima anak, seperti imunisasi dan kapsul vitamin A. Bila anak belum menerima pelayanan maka petugas harus memberikan imunisasi dan kapsul vitamin A sesuai dengan jadwalnya. Petugas kesehatan juga dapat menggerakkan tokoh masyarakat dalam kegiatan pemantauan pertumbuhan.
Sumber:
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.155/Menkes/Pers/I/2010 Tanggal 28 Januari 2010 Tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita.
Tidur adalah salah satu kebutuhan utama untuk menjaga kestabilan kesehatan seseorang
Kekurangan dan kelebihan tidur dapat mempengaruhi kestabilan kesehatan anak. Jumlah kebutuhan tidur anak memang bervariasi, tergantung dari faktor individu dan lain-lain, termasuk faktor usia anak.
Usia 1-4 Minggu
Bayi yang baru lahir biasanya tidur dalam durasi yang pendek namun sering. Jumlah kebutuhan tidur mereka biasanya sekitar 15 sampai 18 jam dalam sehari, dan pola tidur mereka masih belum teratur karena belum mempunyai jam biologis sendiri. Bayi prematur biasanya tidur lebih lama daripada bayi yang terlahir normal.
Usia 1-4 Bulan
Dengan usia bayi yang sudah mencapai 6 minggu lebih, pola tidur mulai terbentuk. Durasi terpanjang tidur anak saat ini dapat mencapai 4 sampai 6 jam, dan jumlah kebutuhan tidurnya mencapai 14 sampai 15 jam sehari. Kerancuannya dalam membedakan siang dan malam perlahan-lahan mulai menghilang.
Usia 4-12 Bulan
Bayi di usia ini biasanya memiliki 3 waktu tidur siang, dan menurun menjadi 2 waktu tidur siang ketika berusia 6 bulan, di mana saat ini (atau sebelumnya) mereka secara fisik telah mampu tidur sepanjang malam. Tidur siang pertama biasanya mulai pukul 9 pagi dan berlangsung satu jam, tidur siang kedua biasanya mulai pukul 12 sampai 2 siang dan berlangsung sekitar satu sampai dua jam, tidur siang ketiga berlangsung sekitar pukul 3 sampai 5 sore.
Lima belas jam adalah jumlah waktu yang ideal untuk anak Anda saat ini, namun kebanyakan bayi yang berumur lebih dari 11 bulan hanya mendapatkan tidur selama 12 jam. Membentuk kebiasaan tidur yang sehat adalah tujuan utama Anda selama periode ini, karena bayi Anda kini jauh lebih bersosialisasi, dan pola tidurnya sudah seperti orang dewasa.
Usia 1-3 Tahun
Sejalan dengan bertambahnya usia anak Anda yang melewati tahun pertama dan menuju 18-21 bulan, ia berkemungkinan akan mengurangi jadwal tidur siangnya hingga menjadi satu kali tidur siang dalam sehari dan berlangsung sekitar 1 sampai 3 setengah jam. Sebenarnya balita saat ini memerlukan jumlah tidur 12 sampai 14 jam, namun mereka biasanya hanya mendapatkan waktu sampai 10 jam per harinya. Kebanyakan mereka pergi tidur di malam hari pada pukul 7 sampai 9 malam, dan bangun antara pukul 6 sampai 8 pagi.
Usia 3-5 Tahun
Jumlah kebutuhan tidur anak pada usia ini adalah sekitar 10 sampai 12 jam. Anak-anak pada usia ini pergi tidur di malam hari pada pukul 7 sampai 9 malam, dan bangun antara pukul 6 sampai 8 pagi seperti yang telah mereka sebelumnya. Pada umur 3 tahun, sebagian masih ada yang mempertahankan waktu tidur siangnya, namun sebagian besar tidak. Durasi tidur siang juga menjadi pendek juga secara berangsur-angsur. Permasalahan pola tidur biasanya tidak berkembang setelah umur 3 tahun.
ASI jelas sebagai asupan terbaik bagi si anak-anak. Namun, adakalanya kondisi ibu tidak memungkinkan memberikan ASI kepada sang buah hati. Pada kondisi seperti itulah, dengan amat terpaksa orang-tua harus rela memberikan susu formula kepada bayinya.
Kekhawatiran dengan pemberian susu formula, dikarenakan susu formula dapat menjadi media tumbuh berbagai bakteri yang dapat mengganggu kesehatan bagi yang meminumnya. Kendati demikian susu formula yang sekarang beredar sudah dinyatakan aman oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan, namun masih banyak orangtua yang khawatir untuk memberikan susu formula pada anak-anaknya. Kekhawatiran untuk memberikan susu formula, disebabkan sejak diperah dari ambing (puting) binatang, susu bisa terkontaminasi oleh berbagai jenis bakteri antara lain sebagai berikut:
1.Staphylococcus aureus
Bakteri ini merupakan pemicu utama gastroenteritis atau radang lambung dan ditularkan oleh binatang melalui susu segar. Binatang yang mengalami mastitis atau radang ambing akan menghasilkan susu yang terkontaminasi jika saat diperah ambingnya tidak dicuci terlebih dahulu.
2.Streptococcus cremoris
Secara alami, bakteri ini bisa ditemukan dalam jumlah sedikit dalam susu segar karena berfungsi menghambat bakteri patogen (merugikan) dengan cara menghasilkan asam laktat. Namun dalam jumlah banyak, pada manusia bakteri ini bisa memicu radang tenggorokan, radang amandel (tonsilitis) serta radang paru-paru (pneumonia).
3.Mycobacterium spp
Salah satu bakteri yang termasuk dalam kelompok Mycobacterium adalah bakteri penyebab tuberculosis (TBC) yakni M.tuberculosis. Namun TBC yang ditularkan oleh susu tidak disebabkan oleh M.tuberculosis melainkan oleh M.avium yang masih satu kerabat.
Kontaminasi Mycobacterium cukup sering terjadi, sebab 68 persen susu segar di Amerika Serikat yang belum melalui proses pengolahan juga tercemar olehnya. Bahkan di Inggris dan wales, 7 persen susu segar yang sudah diolah (pasteurisasi) masih mengandung bakteri ini.
4.Pseudomonas sp
Bakteri ini biasanya hanya ditemukan dalam susu segar yang belum diolah, namun susu pasteurisasi juga bisa tercemar akibat rekontaminasi dengan susu mentah. Meski tidak terlalu membahayakan, bakteri ini dapat menurunkan kualitas susu karena bersifat menguraikan protein.
Fungsi alami dari bakteri yang juga ditemukan dalam daging dan bahan makanan lain ini adalah mempercepat pembusukan. Susu atau bahan makanan yagn terkontaminasi baktyeri ini biasanya tampak memiliki lapisan berlendir.
5.Serratia marcescens
Meski lebih jarang dibanding Staphylococcus aureus, bakteri Serratia marcescens juga bisa menyebabkan mastitis atau radang pada ambing binatang. Susu yang tercemar bakteri ini biasanya berwarna merah dan bisa memicu infeksi pada saluran pencernaan, kencing dan pernapasan.
6.Enterobacter sakazakii
Enterobacter sakazakii merupakan bakteri gram negatif anaerob fakultatif, berbentuk koliform (kokoid), dan tidak membentuk spora. Bakteri ini termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Sampai tahun 1980 E. sakazakii dikenal dengan nama Enterobacter cloacae berpigmen kuning.
Laporan mengenai infeksi E. sakazakii menunjukkan bahwa bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi. Kelompok bayi yang memiliki resiko tertinggi terinfeksi E. sakazakii yaitu neonatus (baru lahir hingga umur 28 hari), bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Enterobacter sp. merupakan patogen nosokomial yang menjadi penyebab berbagai macam infeksi termasuk bakteremia, infeksi saluran pernapasan bagian bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih, infeksi dalam perut, radang jantung, radang sendi, osteomyelitis, dan infeksi mata.
Angka kematian akibat infeksi E. sakazakii mencapai 40-80%. Sebanyak 50% pasien yang dilaporkan menderita infeksi E. sakazakii meninggal dalam waktu satu minggu setelah diagnosa. Hingga kini belum ada penentuan dosis infeksi E. sakazakii, namun sebesar 3 cfu/100 gram dapat digunakan sebagai perkiraan awal dosis infeksi.
Untuk dapat menangkal kekhawatiran dalam pemberian susu formula, maka langkah-langkah berikut patut untuk diperhatikan, yaitu :
Lihat tanggal kedaluarsa pada kemasan susu.
Pastikan kemasan susu dalam kondisi baik, tidak penyok.
Jangan berikan susu formula untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan, kecuali dalam kondisi terpaksa.
Perhatikan kebersihan diri orang yang menyiapkan susu formula, misalnya mencuci tangan.
Pastikan selalu mencuci dan mensterilkan botol susu.
Cairkan susu formula dengan air panas yang sudah mendidih.
Berikan susu pada bayi saat masih dalam kondisi hangat. Jika sudah dingin dan lebih dari 2 jam, ganti dengan susu yang baru.
Jika kaleng susu sudah dibuka lebih dari 8 hari, sebaiknya ganti dengan susu yang baru.
Melalui perlakuan yang baik dalam penyajian susu formula, memungkinkan anak-anak kita terhindar dari segala macam bakteri yang dapat mengganggu kesehatan anak dan balita.